Home / Pendidikan / Kosakata Bahasa Indonesia Sehari-hari Yang Paling Sering Salah Dieja

Kosakata Bahasa Indonesia Sehari-hari Yang Paling Sering Salah Dieja

Kosakata Bahasa Indonesia Sehari-hari Yang Salah – Kosakata (vocabulary dalam bahasa Inggris) adalah pembendaharaan kata yang kemudian digunakan untuk menyusun kalimat baru. Seseorang mempunyai banyak kosakata yang dikuasai umumnya bisa dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. Agar dalam berkomunikasi lancar maka penambahan kosakata seseorang merupakan bagian yang sangat penting.

Baca Juga : 100 Kosakata Bahasa Korea Sehari-hari Untuk Pemula

Peraturan kosakata bahasa Indonesia mengacu kepada ejaan yang sudah diresmikan (EYD) yang terkumpul dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kenyataannya kosakata bahasa Indonesia di bagi menjadi dua, yaitu kosakata baku dan kosakata tidak baku. Kosakata baku adalah kosakata bahasa Indonesia yang sudah diresmikan sesuai dengan EYD. Tertawa adalah salahsatu contoh kosakata bahasa Indonesia baku. Sedangkan kosakata tidak bakunya adalah ketawa.

Kosakata-Bahasa-Indonesia-Sehari-hari-Yang-Paling-Sering-Salah-Dieja

Kosakata biasa kita gunakan untuk melakukan komunikasi atau pembuatan kalimat dalam menulis. Sebaiknya agar dalam penerapannya tidak mengalami salah eja maka kita harus sesantiasa berpedoman kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sekarang KBBI sudah tersedia versi online dengan mengakses kbbi.web.id. Walaupun kelengkapan referensi versi online tidak selengkap versi offline (hardcopy), tapi KBBI versi online salahsatu alternatif untuk memudahkan dalam pencarian setiap kita menemukan kosakata yang ragu akan kebenaran ejaan atau artinya.

Jika kita tidak berpedoman terhadap KBBI terkadang kita sering salah dalam mempraktikkan kosakata. Apalagi jika profesi kita sebagai seorang WordPresser atau Blogger. Karena seperti yang sudah kita tahu, kegiatan sehari-hari WordPresser atau Blogger adalah menulis artikel untuk diterbitkan di blognya. Ini akan berakibat besar jika memang kosakata yang salah eja tersebut kita jadikan untuk menembak kata kunci (keyword). Bisa jadi mesin pencari akan kebingungan memprediksi keyword dari artikel yang ditargetkan.

Bukan maksud saya menggurui, namun sudah sepantasnya kita saling mengingatkan dalam kebenaran. Saya sendiri mengakui ternyata banyak artikel-artikel yang sudah saya terbitkan dan ternyata masih ada sebagian kosakata yang ejaanya salah. Atas dasar tidak tahu sehingga awalnya saya kira kosakata tersebut adalah benar.

Dari banyaknya kosakata bahasa Indonesia yang sering saya gunakan dalam kegiatan sehari-hari atau dalam membuat artikel, saat ini saya menemukan 10 kosakata yang ternyata kebiasaan mengeja saya tersebut salah besar menurut EYD atau KBBI. Kemudian saya tulis kembali kosakata yang sering salah eja tersebut hingga menjadi sebuah artikel. Diharapkan tulisan ini ada manfaatnya khusus untuk teman-teman yang belum mengetahuinya.

Berikut 10 Kosakata Bahasa Indonesia Sehari-hari Yang Sering Salah Dieja

Daftar 10 kosakata yang salah ketika dieja ini hanya kosakata bahasa Indonesia yang paling sering saya gunakan. Dan juga kosakata yang sudah saya temukan ejaan yang benar menurut Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI) dan juga sebagian referensi saya dapatkan dari WikiPedia.

1. Silakan atau Silahkan

Kosakata pertama yang paling sering salah ketika dieja adalah kosakata silakan dan silahkan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) penulisan yang benar adalah silakan bukan silahkan. Kosakata silakan mempunyai makna kata perintah halus dan juga mempunyai arti menyuruh, meminta, dan juga mengajak secara hormat.

Di dalam KBBI tidak ditemukan kata silah, namun yang ada hanya kata sila. Adapun kata sila ini mempunyai tiga makna dan Anda bisa menemukannya sendiri di KBBI.

2. Aktivitas atau Aktifitas

Kedua kosakata ini jika kita lafalkan maka tidak akan terdengar perbedaannya antara penulisan dengan huruf “v” dan huruf “f”. Namun jika kosakata ini kita temukan dalam sebuah tulisan, tentunya akan terlihat jelas perbedaan antara keduanya. Lalu mana yang benar, apakah “aktivitas” atau “aktifitas”?

Kosakata ini bermula dari penyerapan kosakata asing yang mulanya adalah “activity” bukan dari kata “active”. Sedangkan menurut kaidah yang sudah disepakati setiap kosakata hasil serapan bahasa asing yang berakhiran -ity akan diserap menjadi -itas, activity menjadi activitas bukan aktifitas karena mulanya bukan dari kata active. Contoh lainnya university menjadi universitas dan reality menjadi realitas.

3. Kualitas atau Kwalitas

Terkadang kita bingung jika dihadapkan pada tulisan yang terdapat kata kualitas dan juga kwalitas. Perbedaannya yang satu menggunakan huruf “u” dan yang satunya menggunakan huruf “w”. Contoh lainnya seperti kosakata kuitansi dan kwitansi, kuantitas dan kwantitas, kualitas dan kwalitas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) penulisan yang benar adalah yang menggunakan huruf “u” bukan huruf “w”. Jadi yang betul adalah kualitas bukan kwalitas. Begitupun untuk kosakata yang lainnya.

4. Manfaat atau Manfa’at

Biasanya setiap kosakata serapan dari bahasa Arab yang mengandung tulisan huruf “ain” maka ditulisnya sering menggunakan tanda hamzah (). Fungsinya untuk memisahkan pelafalan yang berbeda. Namun pada penulisan bahasa Indonesia saat ini tanda hamzah tersebut sudah tidak digunakan lagi. Jadi untuk penulisan kosakata antara manfaat dan manfa’at adalah yang benar manfaat bukan manfa’at. Begitupun untuk kosakata-kosakata lainnya seperti doa bukan do’a, jumat bukan jum’at, taat bukan ta’at, maaf bukan ma’af, dan sebagainya.

5. Analisis atau Analysis

Kosakata inipun berasal dari serapan bahasa Inggris yaitu analysis. Jika kosakata serapan bahasa Inggris setiap akhiran -ysis maka akan berubah menjadi -isis. Dengan begitu analysis penulisan bahasa Indonesia yang benar adalah menjadi analisis dan bukan analisa.

Menurut KBBI analisis adalah sebuah penyelidikan terhadap suatu peristiwa seperti karangan, perbuatan, dan sebagainya untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Lebih lengkapnya lagi silakan Anda temukan di KBBI baik online ataupun offline.

6. Sekadar atau Sekedar

Umumnya mungkin kita mempunyai anggapan kalau kosakata yang benar adalah sekedar. Namun kenyataannya kata tersebut menurut KBBI salah. Jika kita membuka KBBI maka tidak akan ditemukan kata dasar “kedar” tapi yang ada adalah kata dasar “kadar”. Dengan begitu jika kita menambahkan imbuhan “se” didepannya maka akan menjadi “sekadar”.

Saya sendiri awalnya tidak memahami dan sering menggunakan kata sekedar dalam berkomunikasi atau menulis artikel. Selain itu banyak juga kosakata lainnya yang menurut EYD tidak baku, seperti sistem sering dibaca sistim, apotek bukan apotik, varietas bukan varitas, asas bukan azas, dan sebagainya.

7. Praktik atau Praktek

Diantara kedua kata ini saya yakin kita lebih sering menggunakan kata praktek daripada praktik. Namun kenyataannya kata yang benar adalah “praktik” dan bukan “praktek”. Setiap kata serapan yang mempunyai akhiran -ic maka perubahan yang benar adalah menjadi akhiran -ik. Jadi jelas bahwa kata praktik yang benar daripada praktek dan juga malpraktik bukan malpraktek.

Dari kata praktik kita mengenal juga kata praktikan, yaitu orang yang sedang melakukan praktik. Dan juga kita kenal kata praktikum yaitu kegiatan yang hubungannya dengan praktik atau percobaan.

8. Mengubah atau Merubah

Menurut kaidah bahasa Indonesia antara “mengubah” dan “merubah” yang benar adalah mengubah. Kata dasar mengubah adalah dari kata “ubah” bukan “rubah”. Kita harus menghilangkan konsep menulis atau komunikasi yang mempunyai paham yang benar adalah kata merubah.

Kata dasar “ubah” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai makna tukar, pindah, dan ganti. Selanjutnya kata dasar “rubah” menurut KBBI adalah seekor hewan sejenis anjing, bermoncong panjang. Tentunya bukan itu arti sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh kita.

Contoh kalimatnya “Saya telah mengubah bentuk muka dengan melakukan operasi plastik”. Artinya “Saya telah menukar/mengganti bentuk muka dengan melakukan operasi plastik”. Coba bayangkan jika menggunakan kata “merubah”!

9. Nol atau Kosong

Tahukah Anda bahwa “nol” (0) tidak bisa disamakan dengan “kosong” begitupun sebaliknya. Hal keliru ini mungkin sudah membudaya dan melekat kuat didalam kegiatan sehari-hari kita seperti dalam percakapan langsung atau bahkan di berbagai media audiovisual seperti televisi dan radio. Penyebutan angka “nol” (0) yang disamakan dengan “kosong” sering dijumpai ketika pengucapan nomor telepon. Contohnya “085709XXXXXX” maka akan dibaca “kosong delapan lima tujuh kosong sembilan XXXXXX”.

Mempunyai anggapan bahwa “nol” sama dengan “kosong” adalah sesuatu hal yang keliru. Alasannya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa “kosong” adalah 1 tidak berisi: peti — itu rupanya menjadi sarang tikus; 2 tidak berpenghuni: rumah itu sudah lama –; 3 hampa; berongga: batang kangkung itu — di dalamnya; 4 tidak mengandung arti: dia menerima tangan saya dng sikap dingin dan pandangan yg –.

Kesimpulannya tidak ditemukan dalam KBBI kalau “kosong” bisa kita rujuk untuk penyebutan angka. Hal ini sama dengan pelafalan kosakata bahasa Inggris, yaitu setiap angka yang mengandung angka “0” maka akan disebutkan sebagai “zero” atau “ou” bukan “empty”.

10. Di mana atau Dimana

Jika kita merujuk kepada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) setiap kata depan di, ke, dan dari harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Namun tidak berlaku bagi gabungan suku kata yang sudah lazim penggunaannya seperti kata daripada dan kepada.

Dengan begitu penulisan yang benar adalah “di mana” bukan “dimana”. Penggunaan kata “di mana” yang tepat hanyalah untuk digunakan sebagai kata tanya dalam sebuah kalimat tanya. Dan juga bisa digunakan sebaga kata penghubung yang menyatakan tempat serta dalam bentuk “di mana-mana”. Berikut contoh kalimatnya :

Di mana kamu sekolah?

– Sementara ini saya akan berpikir dulu di mana kamu akan sekolah.

Di mana kamu sekolah, di situlah sayapun akan sekolah.

– Kamu bisa sekolah di mana-mana.

Namun perlu kita ketahui juga bahwa kata “di mana” tidak bisa kita gunakan untuk menghubungkan dua klausa yang tidak sederajat. Penggunaan kata “di mana” bukan untuk sebagai kata penghubung. Karena di dalam pedoman bahasa Indonesia kata penghubung adalah “yang”. Contoh kalimatnya adalah :

Di mana sebagai pengganti tempat : “Saya ke sekolah di mana menempuh pendidikan kakak saya”. Seharusnya “Saya ke sekolah tempat menempuh pendidikan kakak saya”.

Di mana sebagai pengganti dengan : “Pelajaran selanjutnya adalah Matematika di mana pak Hermawan adalah gurunya”. Seharusnya “Pelajaran selanjutnya adalah Matematika dengan pak Hermawan adalah gurunya”.

Dimana sebagai pengganti yang : “Guru Matematika memberikan pelajaran tambahan kepada siswa di mana nilainya kurang dari KKM”. Seharusnya “Guru Matematika memberikan pelajaran tambahan kepada siswa yang nilainya kurang dari KKM”.

Agar kita mempunyai kemampuan berbahasa yang baik maka kita meski memperbanyak lagi pembendaharaan kosakata. Dengan salahnya ketika kita berbahasa maka bisa menimbulkan multitafsir pembaca.

Kesuksesan dalam berbahasa Indionesia yang baik dan benar tidak bisa ditentukan dengan latar belakang lulusan (pendidikan) orang tersebut. Banyak juga orang yang sukses dalam bidang menulis tapi bukan jebolan atau sarjana kebahasaan.

Mungkin untuk sementara hanya itu saja kumpulan kosakata bahasa Indonesia sehari-hari yang paling sering salah dieja. Mari kita belajar bersama-sama dalam pengucapan bahasa yang baik dan benar menurut EYD atau KBBI.

About InfoMenarik

Berbagi Info & Tips Trik Menarik tentang Seputar EPS-Topik Korea, Kesehatan, Microsoft Office, Pendidikan, Photoshop, Software, Teknologi, WordPress Terlengkap dan Gratis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *